| SUSUNAN
UMUM KOMPLEK PERCANDIAN
Dalam garis besarnya susunan umum komplek percandian Penataran
dapat diuraikan sebagai di bawah ini.
Menurut catatan bangunan kekunaan menempati areal tanah seluas
12.946 m2 berjajar dari barat laut ke timur kemudian berlanjut
ke bagian tenggara. Seluruh halaman komplek percandian kecuali
halaman yang berada di bagian tenggara di bagi-bagi (disekat)
oleh dua jalur dinding yang melintang dari arah utara ke selatan
sehingga membagi halaman komplek percandian menjadi tiga bagian
yang untuk mudahnya yang berturut-turut akan di sebut sebagai:
halaman A untuk halaman I, halaman B untuk halaman II, dan
halaman C untuk halaman III. Pembagian halaman komplek percandian
menjadi tiga bagian adalah berakar pada kepercayaan lama nenek
moyang kita. Sebagian dapat diamati oleh peta situasi, halaman
B masih di bagi lagi oleh dinding yang membujur arah timur
- barat sehingga membagi halaman B menjadi dua bagian. Apakah
halaman B ini dahulu tertutup oleh tembok keliling belum di
ketahui dengan pasti sebab kini yang tinggal hanya pondasi
- pondasinya saja. Begitu juga tembok keliling komplek percandian
sudah sejak lama runtuh, yang nampak sekarang adalah bagian
pagar tanaman hidup yang berfungsi sebagai batas pagar keliling
kekunaan. Tembok keliling dan dinding penyekat terbuat dari
bahan bata merah, sehingga karena perjalanan waktu yang cukup
lama menyebabkan keruntuhannya.
Susunan komplek percandian Penataran memang menarik karena
letak bangunan yang satu dengan yang lain berhadap-hadapan
terus ke belakang yang sepintas kelihatannya agak membingungkan.
Susunan bangunan mirip dengan susunan bangunan pura yang ada
di Bali. Dalam susunan seperti ini di bagian halaman yang
terletak paling belakang adalah yang paling suci karena di
sini terdapat bangunan pusatnya atau bangunan induknya. Juga
di Bali tempat bagi dewa - dewa berada di bagian candi yang
paling belakang yakni bagian yang paling dekat dengan gunung.
Di Jawa Timur perwujudan dalam bentuk bangunan berupa bangunan
candi yang berteras-teras dengan susunan makin ke atas makin
kecil yang di sebut punden berundak. Pintu masuk ke halaman
komplek percandian yang sementara ini juga berfungsi sebagai
pintu keluar terletak di bagian barat. Dengan menuruni tangga
masuk yang berupa undak-undakan sampailah kita di ruang tunggu
tempat pengunjung mendaftarkan diri sebelum masuk halaman
komplek percandian. disini terdapat dua buah arca penjaga
pintu (Dwaraphala) yang di kalangan masyarakat Blitar di kenal
dengan sebutan “Mbah Bodo” yang menarik dari kedua
arca penjaga ini bukan karena ukurannya yang besar dan wajahnya
yang menakutkan (daemonis) tetapi pahatan angka tahun tertulis
dalam huruf Jawa Kuno: tahun 1242 Saka atau kalau di jadikan
mesehi (ditambah 78 Tahun) menjadi 1320 Masehi.
Berdasarkan pahatan angka tahun yang terdapat pada kedua lapik
arca penjaga tersebut para sarjana berpendapat bahwa bangunan
suci Pala (nama lain untuk candi penataran) di resmikan menjadi
kuil negara (state temple) baru pada jaman Raja Jayanegaradari
Majapahit yang memerintah pada tahun 1309 - 1328 AD. Di sebelah
timur kedua arca penjaga di tempat yang tanahnya agak tinggi
terdapat sisa-sisa pintu gerbang dari bahan bata merah. Pintu
gerbang tersebut masih di sebut-sebut Jonathan Rigg dalam
kunjungannya ke candi Penataran pada tahun 1848. Dengan melalui
bekas pintu gerbang ini sampailah kita ke bagian terdepan
halaman A. Disini masih dapat disaksikan sekitar 6 buah bekas
bangunan yang hanya tinggal pondasinya saja itu terbuat dari
bahan batu bata merah. Melihat banyaknya umpak - umpak batu
yang tersisa di sini dapat diduga bahwa dahulu terdapat bangunan
- bangunan yang menggunakan tiang kayu seperti yang dapat
kita jumpai di Bali. Berapa banyak bangunan yang menggunakan
tiang - tiang kayu belum dapat diketahui dengan pasti.
bangunan -bangunan penting yang terletak di halaman A adalah
sebuah bangunan yang berbentuk persegi panjang yang disebut
dengan nama “Bale Agung”, kemudian bangunan bekas
tempat pendeta yang hanya tinggal tatanan umpak-umpak saja,
sebuah bangunan berbentuk persegi empat dalam ukuran yang
lebih kecil dari bangunan bale agung yang di sebut dengan
nama “pendopo teras” atau “batur pendopo”
dan bangunan yang berupa candi kecil berangka tahun yang di
sebut candi Angka tahun. Bangunan - bangunan tersebut seluruhnya
terbuat dari batu andesit.
Menurut halaman B juga melewati sisa-sisa bekas pintu gerbang
yang bagian depannya di jaga oleh dua buah arca dwarapala
dalam ukuran yang lebih kecil. Kedua arca dwarapala ini pada
lapik arca nya juga terpahat angka tahun, tertulis tahun 1214
Saka atau 1319 Masehi. Peristiwa apa yang dikaitkan dengan
angkat tahun ini belum diketahui. Di Halaman B masih dapat
di saksikan sekitar 7 buah bekas bangunan, ada bangunan yang
terbuat dari bahan bata merah dan ada juga bangunan yang terbuat
dari bahan batu andesit. Dari ketujuh buah bekas bangunan
tersebut enam buah diantaranya sudah tidak dapat dikenali
lagi bentuknya. Satu satunya bangunan yang cukup di kenal
adalah Candi Naga, di sebut demikian karena sekeliling tubuh
bangunan tersebut di lilit ular Naga. Bangunan Candi Naga
seluruhnya terbuat dari batu andesit.
Halaman terakhir adalah halaman C, di situ juga terdapat bekas
pintu gerbang yang bagian depannya di jaga oleh dua buah arca
dwarapala. Ada sekitar 9 buah bekas bangunan, dua buah yang
sudah dapat dikenali adalah bangunan candi induk, tujuh bangunan
yang lain sementara ini belum terungkapkan.
Disebelah selatan bangunan candi masih berdiri tegak sebuah
batu prasasti atau batu bertulis. Melihat besarnya ukuran
batu prasasti ini para ahli menduga batu tersebut masih berada
di tempat aslinya. Prasasti menggunakan huruf jawa kuno bertahun
1119 Saka atau 1197 Masehi di keluarkan oleh Raja Srengga
dari kerajaan Kediri. Karena isinya antara lain menyebutkan
tentang peresmian sebuah perdikan untuk kepentingan Sira Paduka
Batara Palah maka para sarjana berpendapat bahwa yang dimaksud
Palah tentunya tidak lain adalah Penataran. Andaikata dapat
dibenarkan bahwa Palah adalah Candi Penataran sekarang maka
usia pembangunan komplek percandian Penataran memakan waktu
sekurang-kurangnya 250 tahun. di bangun dari 1197 Masehi pada
jaman kerajaan Kediri sampai tahun 1454 pada jaman kerajaan
Majapahit. Hampir semua bangunan yang dapat kita saksikan
sekarang berasal dari masa pemerintahan raja-raja Majapahit.
Barangkali bangunan-bangunan yang lebih tua (dari jaman Kediri)
telah lama runtuh.
Masih ada dua bangunan lain yang letaknya di luar komplek
percandian tentunya masih ada hubungannya dengan komplek percandian
Penataran secara keseluruhan. Bangunan tersebut berupa sebuah
kolam berangka tahun 1337 Saka atau 1415 Masehi yang terletak
di sebelah tenggara dan sebuah kolam lagi (Petirtaan) dalam
ukuran yang agak besar terletak kira-kira 200 m ke arah timur
laut komplek percandian.
oooOO-0-OOooo |