|
RIWAYAT PENEMUAN
Semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit yang kemudian di susul
dengan masuknya agama Islam, banyak bangunan suci yang berkaitan
dengan agama Hindu / Budha begitu saja di tinggalkan oleh
masyarakat penganutnya. Lama-lama bangunan-bangunan suci yang
tidak lagi dipergunakan itu di lupakan orang-orang karena
masyarakat sebagian besar telah berganti kepercayaan. Akibatnya
bangunan tersebut menjadi terlantar tidak ada lagi yang mengurusnya,
pada akhirnya tertimbun longsoran tanah dan semak semak belukar.
Yang nampak adalah puing - puing berserakan di sana sini.
Ketika daerah ini berkembang menjadi pemukiman keadaannya
menjadi lebih parah lagi. Batu - batu candinya di bingkar
orang dari susunannya untuk keperluaan alas bangunan rumah
atau pengeras jalan, sedangkan batu bata yang di tumbuk untuk
dijadikan semen merah. Sejumlah batu-batu berhias dan juga
arca-arca di ambil oleh sinder - sinder perkebunan. Keadaan
yang menyedihkan ini berlangsung cukup lama, sampai datangnya
para peneliti pada sekitar permulaan abad XIX. Dengan keahlian
yang dimilikinya mulailah para peneliti itu mengadakan rekonstruksi
dan pemugaran.
Demikian juga keadaan komplek percandian Panataran dimasa
lalu. Candi Penataran di temukan pada tahun 1815 tetapi sampai
tahun 1850 belum banyak di kenal. Penemunya adalah Sir Thomas
Stamfort Raffles (1781 - 1826), letnan gubernur jendral kolonial
Inggris yang berkuasa di negara kita pada waktu itu.
Raffles bersama dengan Dr. Horsfield seorang ahli Ilmu Alam
mengadakan kunjungan ke Candi Penataran, hasil kunjungannya
di bukukan dalam bukunya yang cukup terkenal “History
of Java” yang terbit dalam dua jilid. Jejak raffles
ini kemudian di ikuti oleh para peneliti lainnya: J. Crawfurd
seorang asisten residen di Yogyakarta, selanjutnya van meeteren
Brouwer (1828), Junghun (1844), Jonathan Rigg (1848) dan N.W.
Hoepermans yang pada tahun 1866 mengadakan inventarisasi di
komplek percandiaan Penataran. Pada tahun 1867 Andre de la
Porte bersama dengan J. Knebel seorang asisten residen mengadakan
penelitian atas Candi Panataran dan hasil penelitian di bukukan
dalam bukunya yang terbit 1900 yang berjudul “De ruines
van Panataran”.
Dengan berdirinya badan resmi kepurbakalaan yang pada waktu
itu bersama Oudheidkundige Dienst (biasa di singkat OD) pada
tanggal 14 - 06 - 1913 maka penanganan atas candi Penataran
menjadi lebih intensif. Pada saat ini bersama dengan peninggalan
kuno yang lainyang berada di Jawa Timur, Pemeliharaan, Perlindungan,
Pemugaran dan sebagainya atas Candi Penataran berada di tangan
Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur yang berkantor
pusat di Trowulan, Mojokerto.
oooOO-0-OOooo
|